Kotor = Belajar?

Kemarin sore, saya menerima telepon dari pengasuh anak-anakku di rumah. Dengan panik, dia melaporkan, “Bu, itu bu… Adek bawa tanah merah setengah ember, dicampur air, terus dilap-lap dilantai kamarnya bu. Kotor bener bu.. kamarnya dah kayak sawah!!”
Hah?! Tanah merah? Sawah?!!
Dengan bingung dan sedikit ikutan panik, saya pun meminta berbicara dengan anak sulung saya, Bening.
“Bening, ada apa? Kenapa main tanahnya dikamar?”
Bening dengan santai menjawab..
Kan kalo gak kotor, gak belajar!” *gubrak* $%%^^&*(())
Memang siy.. sering kali ketika mereka bermain dilantai, di taman, di pantai, saya tidak pernah melarang mereka untuk mengeksplorasi semua yang ada. Dan saya selalu meng’encourage’ mereka untuk berani kotor agar dapat belajar banyak. Biar mereka dapat belajar tentang benda kasar dan halus, tentang alam, tentang serangga, dan hal-hal lainnya.
Namun, saya tidak pernah mengira, bahwa mereka juga akan menerapkan prinsip yang sama dan membawa konsep “kotor” tersebut juga ke dalam rumah.
Setiap kali saya coba mencari tahu, Bening tidak bisa menjelaskan alasan mereka memindahkan arena bermain tanah ke kamar. Dia malah menggunakan dalih lain…
Ibu siy.. tidak mau pulang kerja cepat, jadinya adek main tanah di kamar deh!! Kalo ibu ada, kan ibu bisa melarang Adek!” Duh…
Saya masih penasaran, kepingin tahu, apa siy alasan mereka bermain tanah dikamar, atau apa siy tujuan mereka bermain tanah. Sesampai dirumah, saya langsung mencari anak bungsu, si Ulan, dan bertanya:
De, kenapa siy.. tadi Adek bermain tanah di kamar? Ibu kan memang tidak melarang Adek main tanah, tapi tidak didalam kamar. Kan kamarnya jadi kotor..
Emang Adek membawa tanah kekamar, mau bikin apa?
Ketika ditanya, dia hanya senyum-senyum tanpa memberikan jawaban.
Ampyuuuun…. saya dah kehabisan akal untuk menggali informasi.
Karena dah kehabisan ide, akhirnya kedua anak saya pun terpaksa diberi hukuman, selama dua hari tidak boleh menonton TV.
Mudah-mudahan saja, mereka tidak mencari kegiatan lain dan bermain lumpur di atas tempat tidur.
Oh dear… inilah, hasil karya mereka.
What would you do, if you were?

3 responses to “Kotor = Belajar?

  1. Tika

    hwuahahaa… what a mess!

    Hmmm… If I were you…

    Let them clean up the mess with fun.
    Kotor = belajar, bebersih = belajar.

    Take pictures before & after.

    Simply just to make them learn:
    1. setiap perbuatan ada konsekuensi.
    2. membersihkan yang kotor kadang (atau lbh sering?) memerlukan effort lebih.
    3. menghargai pengasuh/ asisten di rumah yang selama ini membersihkan seluruh rumah plus mengurus mereka.

    Thank you banget udah sharing mbak Pie, I’ve learned. Next time my dynamic duo yg bakalan bikin seru🙂

    Sun sayang buat Bening & Ulan.

  2. ciliwung12

    Iya tuh Tik.. waktu kemarin karna dah panik.. gue gak kepikiran untuk menghukum mereka untuk membersihkan sendiri kamarnya tersebut. Tapi karna si pengasuh nya emang dah panik.com, jadilah dia yang membersihkan.
    Pelajaran buat kita semua.. gue juga belajar untuk mendidik mereka dengan lebih sabar.🙂

  3. Dimasnovan

    Iyee,… terus bapaknya bakal ngecat lagi kamar Ulan yang kotor bekas cipratan lumpur,… kayak dulu dibolehin nyoret2 dan gambar2 di 1 bidang tembok, ijinnya pake kapur warna,… nambah pake krayon warna, terakhir bablas pake spidol warna permanen. Bisa ngecat seluruh ruangan dalam lagi deh….
    Untung bapaknya orang sabarrrrhh..hh..hh..hh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s